ETIKA SEORANG SISWA/SISWI (PELAJAR)

1. Sebelum berangkat ke sekolah
a. Seorang pelajar yang baik itu semestinya selalu senang terhadap kerapihan dan kebersihan, bangun tidur lebih cepat tiap hari, mandi dengan memakai sabun, mengambil wudlu, shalat subuh berjama’ah, setelah shalat, ia mencium tangan kedua orang tuanya, memakai pakaian seragam sekolah, bersih dan rapi, dan kemudian melihat kembali pelajaran yang telah ditelaahnya semalam sebelum tidur.
b. Setelah sarapan, membereskan alat-alat sekolah ke dalam tas, meminta ijin kepada orang tua dan baru pergi ke sekolah.
2. Etika di perjalanan
a. Seorang siswa yang baik itu berjalan dengan lurus ke depan (fokus), tidak lirik sana-sini memandang yang kurang perlu, tidak bergerak yang tidak layak, tidak terlalu cepat dan tidak pula terlalu lambat, tidak berjalan sambil makan, bernyanyi ataupun membaca buku.
b. Menjauhi tempat yang berlumpur atau kotor, supaya tidak tergelincir ataupun kotor pakaiannya, menjauhi juga tempat yang sempit dan berdesakan agar tidak bertabrakan dengan orang lain dan tidak ada barang yang hilang, dan tidak berhenti di tengah jalan, kalau tidak ada keperluan atau untuk menghalangi jalan orang lain, supaya tidak ketinggalan jam sekolah.
c. Jika berjalan dengan teman, jangan bersenda gurau di jalan, tidak berbicara atau tertawa dengan suara keras, tidak mengejek teman, karena semua itu adalah perbuatan yang tidak baik, dan tidak pantas untuk seorang siswa yang terpelajar.
d. Jangan lupa untuk mengucapkan salam kepada setiap orang yang ditemuinya di jalan, khususnya kepada orang yang lebih tua atau guru.
3. Etika anak di sekolah
a. Ketika sampai di sekolah, seorang siswa membersihkan terlebih dahulu sepatunya dengan lap dan setelah itu baru masuk ke dalam kelas, membuka pintu dengan pelan, masuk dengan etika, mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan teman-temannya, menebar senyuman, sambil berucap: “selamat pagi!”, menyimpan tas di laci mejanya, dan ketika pak guru datang, berdiri untuk menghadap dan memberi salam kepadanya dengan penuh etika dan rasa hormat.
b. Ketika bel berbunyi, berbaris dengan rapi, tidak berbicara dan bercanda, masuk ke dalam kelas dengan tenang setelah diperintahkan sebelumnya oleh pak guru, menuju ke tempat duduk masing-masing dengan posisi duduk yang baik (sikap sempurna), tidak membungkukkan punggung, tidak menggerak-gerakkan kaki, tidak menyempitkan jalan orang lain, tidang tumpang kaki, tidak bermain-main dengan kedua tangan, dan tidak pula menopang dagu.
c. Diam kala belajar, tidak bergerak ke kanan dan ke kiri, tapi pandangan lurus kepada guru, tidak memperbincangkan seseorang atau bahkan menertawakannya, karena hal tersebut dapat mencegahnya dari faham akan materi pelajaran, begitu mencegah orang lain untuk mengerti, selain itu juga dapat membuat pak guru marah. Dan kalau seandainya tidak dapat memahami materi pelajaran, maka pasti akan gugur dalam ujian nanti.
4. Bagaimana seorang siswa menjaga barang-barangnya?
a. Seorang siswa haruslah menjaga barang-barangnya dengan merapikan semua pada tempatnya semula, supaya tidak berubah dan apalagi hilang atau kotor, dan kalau saja tidak rapi dalam menyimpan sesuatu, maka nanti ketika kita butuhkan akan repot untuk mencari, dan akan menyiakan waktu, menutup semua buku yang tidak sedang dipakai, supaya tidak sobek dan kotor, dan hati-hatilah untuk tidak menjilati jari tangan ketika hendak membuka lembaran buku, karena itu adalah kebiasaan yang kurang baik, tidak beretika, dan membahayakan kesehatan.
b. Siswa juga dituntut untuk menjaga alat tulisnya agar tidak terjatuh yang menyebabkannya patah, dan kalau hendak menajamkan pensil, jangan di bangku atau tembok, atau dengan sampul buku, akan tetapi gunakanlah asahan pensil, jangan mengulum pena, jangan menghapus buku dengan ludahnya, tapi hapuslah dengan penghapus pensil, dan jangan menyeka tinta dengan pakaian, tetapi dengan penyeka tinta atau lap (atau tisu, pent.).
5. Bagaimana seharusnya seorang siswa menjaga peralatan sekolah.
Seperti ia menjaga peralatannya, maka seorang siswa juga mesti menjaga peralatan sekolah, dengan tidak merusak atau mengotori meja, bangku, dan kursi, tidak mencoreti tembok dan pintu sekolah, tidak memecahkan kaca, tidak mengotori ruangan kelas dengan meludah atau membuang ingus atau membuang sisa penajaman pensil dan potongan-potongan kertas di dalam kelas, akan tetapi buanglah pada temapat yang telah disediakan untuk itu, tidak bermain dengan bel sekolah, tidak mencoreti papan tulis dan merusak penghapus.
6. Etika siswa dengan guru
a. Wahai siswa yang baik, sesungguhnya seorang guru itu kelelahan untuk mendidik dan mengajarkan etika kepadamu, mengajarimu ilmu yang bemanfaat, menasehatimu dengan ikhlas, semua itu karena ia mencintaimu, sama seperti orang tua mencintai anaknya sendiri, dan ia berharap kelak engkau dapat menjadi seseorang yang alim dan terpelajar.
b. Hormatilah guru seperti menghormati kedua orang tua, duduk di depannya dan bicara dengan sopan, tidak memotong pembicaraannya, tunggulah sampai ia selesai baru kita angkat bicara, perhatikanlah apa yang disampaikannya ketika mengajar, jika tidak mengerti, maka tanyakanlah dengan lemah lembut dan rasa hormat dengan cara mengacungkan jari terlebih dahulu, sehingga beliau mengijinkan kita untuk bertanya, dan kalau beliau balik bertanya, maka berdiri dan jawablah dengan baik, dan tidak baik (tidak beretika) menjawab pertanyaan yang tidak ditujukan pada kita.
c. Kalau engkau ingin dicintai oleh gurumu, maka kerjakanlah semua tugas yang diberikannya dengan baik, hadir setiap kali pertemuan, tidak absen dan atau datang terlambat kecuali ada alasan yang dibenarkan, bersegeralah masuk kembali ke dalam kelas setelah beristirahat, janganlah suka terlambat apalagi kalau suka beralasan dengan yang tidak benar. Fahamilah seluruh pelajaranmu, senantiasa menghapal dan menelaahnya, senang untuk menjaga kebersihan dan kerapihan buku, patuh atas semua perintah yang dititahkan oleh pak guru di sekolah, tidak merasa takut dan benci ketika diajari sesuatu yang baik oleh pengajar, karena tidaklah seorang guru menyuruh untuk mengerjakan sesuatu kecuali yang pasti akan berguna kelak di masa depan, ketika kamu telah besar.
d. Seorang guru merasa senang untuk dapat mengajari murid-muridnya dengan baik, oleh karena itu, maka bersyukurlah atas keikhlasannya dalam mengajar tersebut, jangan melupakan kebaikan seorang guru untuk selamanya. Sedangkan murid yang tidak baik adalah membenci gurunya ketika diajari sesuatu yang baik dan berguna baginya, dan terkadang malah mengadukan hal yang tidak sebenarnya pada orang tua mereka, supaya guru tersebut dapat ditegur oleh kedua orang tuanya.
7. Etika anak bersama teman-temannya
a. Hai anak yang pintar, engkau belajar bersama temanmu pada sekolah yang sama, sama seperti engkau tinggal dengan saudara-saudaramu pada satu rumah, dengan begitu, maka sayangilah mereka sama seperti kamu menyayangi saudaramu, hormati orang yang lebih tua, sayangi orang yang lebih muda, saling membantu ketika belajar, atas apa yang disampaikan oleh pak guru di sekolah, menjaga aturan sekolah, bermain bersama teman pada waktu istirahat di luar kelas, jauhilah apa yang dapat menyebabkan putusnya hubungan persahabatan dan malah menyebabkan permusuhan, menjerit tak karuan dan bermain yang tidak layak untuk dilakukan.
b. Dan seandainya ingin untuk dicintai oleh teman-teman, janganlah kikir ketika mereka meminjam sesuatu padamu, karena kikir itu perbuatan yang sangat tidak baik, tidak sombong karena kepintaran, kesungguhan dan kekayaan kita dibanding mareka, karena sombong bukanlah termasuk akhlak anak yang baik, akan tetapi jika kamu lihat seorang teman yang malas, nasehatilah agar menjadi orang yang rajin, agar meninggalkan budayanya yang malas dan berada dalam kebodohan, bantulah ia untuk memahami pelajaran-pelajarannya, atau kalau ia seorang yang fakir, maka sayangilah dirinya, dan tolong semampumu.
c. Tidak menyakiti teman dengan menyempitkan tempatnya, menyembunyikan sebagian peralatannya, membuang muka (karena menganggap hina) atau melihatnya dengan pandangan yang kurang mengenakkan, berburuk sangka padanya, tidak menyakiti dengan berteriak keras dari arah belakang, supaya mereka tercengang, atau dengan meniup telinganya, atau membuat bising di telinganya, dan kalau engkau meminjam sesuatu darinya, maka jangan merusak atau malah dihilangkan, atau dikotori, tapi kembalikan secepatnya, dan ucapkan terima kasih atas kebaikannya.
d. Jika berbicara dengan mereka, maka bicaralah dengan lembut dan sesekali dibarengi dengan sunggingan senyum, tidak mengeraskan suara atau bermuka masam, dan jauhilah perasaan benci atau iri, dan perkatan yang tidak baik, dan jauhi pula perkataan bohong, mencela, mengadu domba (provokatif), dan jangan mudah untuk bersumpah, walaupun perkataanmu itu adalah memang suatu kebenaran atau fakta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: